Bacalah Cerita Legenda Rawa Pening Terbaik Berikut !

.
.
Pengertian Legenda dan Contoh Legenda Rawa Pening Singkat - Hay Sobat, Legenda merupakan salah satu bentuk prosa lama yang menceritakan tentang kisah atau awal mula terjadinya sesuatu.

Sama halnya dengan contoh prosa lama lainnya, legenda disampaikan secara turun-temurun dari para orang tua terdahulu melalui cerita. Nah, berikut ini adalah contoh legenda tentang asal usul Rawa Pening Singkat. 

Baiklah Sobat, Selamat Membaca !



Cerita Legenda Rawa Pening Singkat


Alkisah di sebuah desa yang terpencil, hiduplah sepasang suami istri yang belum dikaruniai seoarang anak. Sang istri sangat bersedih dengan keadaan itu karena dia merasa sangat kesepian. Melihat istrinya selalu bersedih, sang suami pun menyampaikan niatnya untuk pergi ke Gunung Telomoyo untuk meminta karunia Tuhan Yang Maha Kuasa.
 
Setelah mendapatkan ijin dari istrinya, pergilah Sang Suami pergi menuju puncak Gunung Telomoyo dan bertapa ditempat tersebut. Hari demi hari Sang suami terus menerus bertapa tanpa henti, hingga akhirnya Sang istri mengandung.
 
Sang suami yang tidak mengetahui keadaan istrinya di bawah meneruskan pertapaannya, hingga Sang istri melahirkan seorang anak. Namun, betapa terkejutnya Sang istri ketika mengetahui bahwa anak yang dilahirkan adalah seekor naga yang dapat berbicara. Akan tetapi, Sang istri tetap merawat dan memberinya nama Baru Khlinting.
 
Seiring berjalannya waktu, Baru Khlinting tumbuh dewasa. Dia pun bertanya kepada ibunya mengenai keberadaan ayahnya.
 
“Ibu, dimanakah sebenarnya ayahku berada ? Aku ingin sekali menemuinya,” tanya Baru Khlinting.
 
“Ayahmu sedang bertapa di puncak Gunung Telomoyo, anakku. Pergilah temui dirinya disana,” jawab ibunya.
 
Kemudian, Baru Khlinting pun pergi menemui ayahnya di Puncak Gunung Telomoyo. Setelah mencari cukup lama, dirinya berhasil menemui ayahnya. Namun, ayahnya tidak mengakui bahwa dirinya merupakan putranya sebelum dia membuktikannya dengan cara melingkari Gunung Telomoyo menggunakan tubuhnya.
 
Baru Khlinting pun menyanggupinya dan melaksanankan perintah ayahnya tersebut. Dengan kekuatannya, dia melingkari Gunung Telomoyo menggunakan tubuhnya. Meskipun berhasil, ternyata ayahnya belum juga mengakui dirinya sebagai anak.
 
Akhirnya, Baru Khlinting pergi ke Bukit Tugur untuk bertapa agar menjadi seorang manusia. Namun, ditengah pertapaannya itu, dia terbunuh oleh penduduk desa yang tengah berburu. Tubuhnya dipotong dan dibawa ke desa. Baru Khlinting pun gagal menjadi seorang manusia.
 
Arwah Baru Khlinting yang marah merubah wujudnya menjadi seorang anak kecil yang kotor. Kemudian, pergilah dirinya menuju desa tersebut. Ketika dirinya tiba di desa, Baru Khlinting melihat kerumunan orang yang tengah berpesta menikmati makanan yang sangat banyak.
 
Dia pun mendekati kerumunan tersebut dan meminta sebuah makanan. Namun, yang dia dapat bukanlah makanan, tetapi caci maki dari penduduk desa. Bahkan dirinya dilempar hingga terjatuh di tanah. Pada saat itu juga, seorang nenek datang menghampiri dirinya.
 
“Hey Nak, ikutlah bersamaku, aku akan memberikanmu makanan,” ajak nenek tersebut.
 
Dibawalah anak kecil tersebut menuju rumah sang nenek. Setibanya di rumah, dia diberi makan dan minuman yang cukup banyak. Baru Khilinting pun memakannya hingga habis. Setelah selesai, dia berterimakasih terhadap nenek tersebut dan memberikannya sebuah lesung sebagai tanda terimakasihnya.
 
“Nenek, kau sangatlah baik. Terimalah lesung ini, kelak ini akan menyelamatkan dirimu,” kata anak tersebut.
 
Kemudian, ia kembali menuju kerumunan orang yang tengah berpesta tersebut. Dengan suara yang lantang dia memanggil para penduduk desa dan menancapkan sebatang lidi di tanah.
 
“Wahai para penduduk desa, aku menantang kalian untuk mencabut lidi ini dan barang siapa yang bisa mencabutnya dia adalah orang yang paling kuat,” tegas anak tersebut.
 
Para penduduk pun berbondong-bondong berusaha untuk mencabut lidi tersebut, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil. Semakin lama, orang-orang yang berkumpul semakin banyak. Bahkan seluruh penduduk desa tersebut telah berkumpul.
 
“Kalian semua payah tidak bisa mencabut sebatang lidi ini dari tanah,” hardik ana tersebut.
 
Akhirnya, anak tersebut maju ke tengah kerumunan orang banyak dan mencabut lidi tersebut dengan sangat mudah. Ternyata, tanah bekas lidi itu tertancap mengeluarkan air yang sangat deras.
 
Semakin lama air itu semakin besar hingga menjadi air bah yang menenggelamkan seluruh penduduk desa beserta dengan isinya. Semua penduduk desa tenggelam dan meningeal dunia kecuali seorang nenek yang selamat dengan menaiki sebuah lesung. Desa tersebut telah hilang dan menjadi rawa yang dikenal dengan rawa pening.


***


Demikianlah contoh legenda tentang asal usul rawa pening. Intinya, Legenda merupakan prosa baru yang menceritakan terjadinya sesuatu. 

Nah, sampai di sini perjumpaan kita kali ini, Semoga cerita tentang asal usul rawa pening ini dapat menghibur sobat semua. Terimakasih telah membaca dan sampai berjumpa lagi pada artikel menarik selanjutnya.
Bacalah Cerita Legenda Rawa Pening Terbaik Berikut ! | aria nugraha | 5