Cerita Rakyat Legenda Gunung Semeru Terbaik

.
.
Cerita Rakyat Asal-Usul Terjadinya Gunung Semeru - Gunung Semeru merupakan salah satu gunung terbesar yang ada di Pulau Jawa. Nah Sobat, tahukah Anda bahwa di balik kebesarannya itu terdapat sebuah kisah yang menceritakan tentang asal mula terjadinya Gunung Semeru?

Nah Sobat, berikut ini adalah cerita legenda tentang awal mula terjadinya Gunung Semeru. Baiklah, Selamat Membaca!


Legenda Gunung Semeru 


Diceritakan pada jaman dahulu kala, Dewa Syiwa singgah di sebuah tempat yang dipenuhi oleh pohon jawawut, kemudian tempat tersebut disebut dengan pulau Jawa. Pada masa itu kedudukan pulau jawa tidak stabil dan masih terombang-ambing di atas lautan yang luas. Keadaan ini membuat khawatir para dewa khayangan, sehingga mereka pergi menemui Bhatara Guru.

Sesampainya di tempat Bhatara Guru, Dewa Wisnu berkata kepada Bhatara Guru bahwa Pulau Jawa yang terus terombang-ambing kini telah dipenuhi oleh manusia, sehingga para dewa harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya.
 
Bahtara Guru pun memberi solusi, “ Tanam sebuah pasak di atas Pulau Jawa agar pulau tersebut tidak goyah karena ombak lautan.”
 
Kemudian, Bhatara Guru memerintah mereka untuk pergi ke Jambudwipa (India) dan memotong Gunung Mandara untuk dibawa ke Pulau Jawa.
 
“Tuanku, Gunung Mandara sangatlah tinggi hingga menyentuh langit. Jadi meskipun puncak Mahameru dipotong akan tetap terasa berat,” kata Bhatara Bayu.
“Oleh karena itu, bekerjasamalah kalian karena pekerjaan berat akan menjadi ringan apabila dikerjakan bersama-sama,” kata Bhatara Guru.
 
Setelah itu, pergilah semua dewa ke Jambudwipa untuk melaksanakan perintah Bhatara Guru. Dengan bekerjasama, mereka memotong Gunung Mandara dan membawa Puncak Mahameru.
 
Untuk membawanya ke Pulau Jawa Bhatara Brahma merubah dirinya menjadi sebuah kura-kura raksasa. Kemudian seluruh dewa meletakkan Puncak Mahameru di atas tempurung kura-kura. Kemudian, Bhatara Siwa menjadi seekor naga yang amat sangat panjang. Dia pun melilitkan tubuhnya di Mahameru agar kuat dan tidak terjatuh.
 
Puncak Mahameru yang sangat besar membuat para Dewa menjadi lelah. Di tengah perjalanan mereka meminum air yang keluar dari Puncak Mahameru. Namun, ternyata air tersebut adalah racun Kalkuta, sehingga mereka semua mati terbujur kaku.

Karena tidak kunjung tiba, Bhatara Guru pergi menemui mereka, tetapi dia terkejut karena mereka telah mati. Dengan kesaktiannya, Bhatara Guru merubah racun tersebut menjadi sumber air Suci tirta Khalamandu dan menghidupkan kembali para dewa.
 
Setelah para Dewa kembali sadar, Bhatara guru pun berkata, “Wahai anak-anakku! Lanjutkanlah tugas kalian untuk membawa Mahameru ke Pulau Jawa.” Bhatara Guru kemudian membantu dengan mengerahkan para raksasa untuk membantu para dewa membawa Puncak Mahameru ke Pulau Jawa.
 
Setelah sampai  di bagian barat Pulau Jawa, para dewa menancapkan Mahameru di atasnya. Namun, hal ini membuat Pulau Jawa bagian timur terangkat. Kemudian, para dewa memindahkannya ke bagian timur Pulau Jawa. Ketika mereka mengangkatnya kembali,  Puncak Mahameru runtuh dan berjatuhan di sepanjang perjalanan. 

Bagian-bagian yang jatuh tersebut pun menjadi gunung-gunung yang saling berbaris di sepanjang Pulau Jawa antara bagian barat menuju bagian timur. Gunung-gunung yang terbentuk tersebut adalah Gunung Katong (Lawu), Wilis, Kampud (Kelud), Kawi, Arjuna (Arjuno), dan Gunung Kemukus (Welirang).
 
Setelah tiba, Mereka kembali meletakkan Puncak Mahameru dengan disandarkannya pada Gunung Brahma karena miring akibat sebagiannya runtuh, tetapi Pulau Jawa tetap saja miring. Karena sudah tidak sanggup mengangkatnya lagi, mereka memotong Puncak Mahameru menjadi dua bagian.
 
Bagian pertama Puncak Mahameru menjadi gunung yang disebut dengan Gunung Semeru, kemudian bagian lainnya kembali diangkat menuju Bagian Barat Pulau Jawa menjadi Gunung Pawitra atau Penanggungan.
 
Setelah kedua sisinya dipasak, oleh Puncak Mahameru, Pulau Jawa kini menjadi kokoh, dan tidak terombang-ambing lagi oleh ombak. Dalam kepercayaan Agama Hindu, Gunung Semeru dipercaya sebagai rumah para dewa.
 
Bahkan, hingga saat ini orang-orang Bali menganggap Gunung Semeru sebagai Bapak Gunung Agung, dan terus melakukan ritual dalam setiap 8-12 tahun sekali dengan memberinya Sesajen. Selain itu, mereka juga sering mengunjungi Gua Widodaren untuk mengambil Tirta Khalamandu. 


****


Demikianlah cerita rakyat tentang Legenda Gunung Semeru. Cerita ini mengajarkan kita untuk bekerja sama atau bergotong royong dalam bekerja agar pekerjaan menjadi ringan.

Sampai di sini perjumpaan kita kali ini dalam cerita rakyat Legenda Gunung Semeru. Terimakasih telah membaca dan sampai jumpa lagi dalam artikel menarik lainnya.
Cerita Rakyat Legenda Gunung Semeru Terbaik | aria nugraha | 5